semakin sesak dan perih
sangat terasakan sampai ku tak berdaya lagi
tak kunjung kerinduan lelah membasuh sekaligus mencibirku
semakin gundah dan disamarkan
dan kupekikkan dengan getar hati ke atas atap mereka:
“… kurindu pada kalian, dan sampai saat ini … ”
terima kasih pada sang waktu
yang telah banyak memberiku kesempatan
walau rasanya hanya menyesakkan dada ini
terima kasih pada sang rembulan
yang telah banyak memberiku malam
walau rasanya hanya menghimpit urat nadiku
terima kasih pada sang mentari
yang telah banyak memberiku kebahagiaan
walau rasanya hanya sekedar umpatan
terima kasih pada sang bumi dan air
yang telah banyak memberiku inspirasi
walau rasanya juga tak pernah kuakui
terima kasih pada duniaku
yang sudah usang dimakan sang waktu
yang sudah redup dibelai sang malam
yang sudah tak kuasa membendung gejolak sang puritan
kutitipkan sedikit gundah yang tak pernah tersampaikan
untuk dibacakan pada kebenaran…
Pahit memang yang t’lah kurasakan
bayangan memanjang kelabu di senja hari ini
tak dapat kuamati lagi
tanpa membuang peluh dan dahaga
sangat mustahil apabila kini kuraih
Pahit memang yang t’lah kurasakan
percuma ditangiskan walau tanpa suara
tetap terkikis deras dan waktu pun pasti
tanpa jedah aku dapat merasakan
sama saja saat dihempaskan sekuat tenaga
Pahit memang yang t’lah kurasakan
percuma walau kuelus belati
tak dapat kuresapi makna nantinya
tinggal kerontang suara nafas yang terbaca
bukan saatnya untuk berkata cukup
bila perlu lekas habiskan jangan gundah
Pahit memang yang t’lah kurasakan
dalam masa tiga bulan berselang
tak dapat sedetik pun semua padaku berontak
hanya kerinduan kepada dia … kepada mereka
cukup hening terpekur dalam gusar batin ini
tanpa dapat memberi ruang kebahagiaannya…
daun itu masih kutatap rindu
awalnya hanya sebuah gerakan
berirama senang gembira
berayn kesana kemari
lama barulah bersentuh bumi
kuambil segenggam darinya
sebar di atas diriku
kuingin merasakan hentakan riaknya
… datar terasa
membuat jiwaku bertanya-tanya
kuulangi lagi lagi dan lagi
ingin kuresapi dalam khusyuknya
berbeda dari yang pertama
… namun hanya gerakan yang kurasa
apa yang berbeda ?
kutatap sedih daun-daun itu
jiwaku pun berbisik padanya
berbagilah senang gembiramu
kuingin ayunmu membawaku
walau tak sampai menyentuh bumi
… beri aku sejatimu
dan biarkan diriku bersama riakmu…
bersama nafas aku berwujud
bersama udara aku nyata
bersama malam aku rembulan
bersama mentari aku bersinar
bersama asap aku kabut
bersama air aku embun
bersama alam aku dedaunan
bersama sampah aku bebauan
bersama pasir aku debu
bersama gunung aku bebatuan
bersama dunia aku manusia
bersama manusia aku hina
berserah dalam awal perjalananku
berserah dalam proses kemanusiaanku
berserah dalam kehampaanku
berserah dalam kebahagiaanku
berserah dalam kepedihanku
aku nyata aku manusia aku rembulan
aku tumbuhan aku batu aku kekosongan
karena aku seonggok daging dan darah tanpa makna
pasrah berserah padaMu pasrah berserah dalam kemuliaanMu
Kuperhatikan dedaunan yang jatuh ke bumi
tidak tepat mengenai garis vertikalnya
entah karena ajakan angin yang memutarinya
bisa juga karena bentuk dan beratnya
atau berpindahnya tanah yang dituju
Kuperhatikan tetes air yang jatuh ke bumi
tidak semua berhasil dirangkumnya
entah karena ada pengahalang
bisa juga karena sudah habis sebelumnya
atau menyatu dengan tetes lainnya
Kuperhatikan api unggun yang berwarna merah
tidak menakutkan hanya menghangatkan
entah karena lembabnya malam
bisa juga karena telah memberi impian
dan cahayanya menerangi alam
Kuperhatikan tanah yang kugenggam
tidak ada semut atau binatang kecil lainnya
entah karena ini bukan pintu masuknya
bisa juga karena sudah berpindah
dan ada tempat yang lebih menjanjikannya…
koma… bukan tanda tanya atau titik…
semua bergerak tanpa henti dan tanpa lelah
lalu kenapa aku terjebak di dalamnya…?